Published on July 08, 2026
Bagikan artikel:
“Aku capek, Ma.”
Jawaban itu terdengar lagi.
Sang ibu menatap meja belajarnya penuh buku latihan bahasa Inggris yang masih terbuka. Tablet yang baru dibelikan untuk belajar juga tak tersentuh di sampingnya. Langganan aplikasi belajar juga masih aktif. Bahkan, jadwal les seminggu dua kali tak pernah dilewatkan.
Semua yang seharusnya bisa mendukung si kecil belajar sudah diberikan.
Tetapi setiap kali waktu belajar tiba, anak selalu punya alasan untuk menundanya.
“Nanti ya.”
“Sebentar lagi.”
“Besok saja.”
Lama-kelamaan, orang tua mulai bertanya-tanya.
“Sebenarnya yang salah apa?”
Apakah anak memang tidak menyukai bahasa Inggris? Ada sesuatu yang luput kita sadari?
Banyak orang tua muda di Indonesia tumbuh dengan pengalaman belajar yang sangat berbeda dari anak-anak mereka hari ini.
Dulu, pilihan belajar bahasa Inggris hanya seputar buku pelajaran, guru di sekolah, atau kursus seminggu sekali.
Sekarang?
Anak dapat belajar dari video interaktif, gim edukasi, aplikasi, kelas daring, bahkan teknologi berbasis AI.
Ironisnya, semakin banyak pilihan justru tidak menjamin anak semakin bersemangat belajar.
Banyak orang tua akhirnya merasa bingung.
“Kami sudah mengeluarkan biaya untuk les. Sudah berlangganan aplikasi. Kenapa anak tetap tidak antusias?”
Jawabannya sering kali bukan masalah jumlah fasilitas yang diberikan ke anak.
Melainkan pada pengalaman belajar yang dirasakan anak setiap hari.
Coba ingat kembali.
Kapan terakhir kali anak belajar bahasa Inggris karena benar-benar ingin?
Bukan karena ada PR.
Bukan karena besok ujian.
Bukan karena diminta orang tua.
Dalam psikologi pendidikan, motivasi belajar yang bertahan lama tumbuh ketika anak merasa memiliki rasa ingin tahu, merasa mampu, dan menikmati prosesnya.
Sebaliknya, ketika belajar hanya identik dengan target, koreksi, atau kewajiban, semangat itu perlahan memudar.
Bukan karena anak malas.
Tetapi karena belajar mulai terasa sebagai beban.
Teknologi memang membuka banyak peluang.
Namun, tantangannya adalah anak jadi terbiasa berpindah dari satu video ke video lain hanya dalam hitungan detik.
Permainan hanya memberi hadiah secara instan.
Konten media sosial menawarkan hiburan tanpa jeda.
Di tengah ritme seperti itu, membuka buku latihan atau menghafal kosakata sering terasa jauh lebih berat.
Bukan karena anak tidak mampu berkonsentrasi.
Melainkan karena otaknya terbiasa menerima stimulasi yang cepat.
Kalau pengalaman belajar tidak memiliki “ikatan” yang kuat, maka anak akan mudah kehilangan minat.
Bayangkan dua situasi berikut.
Di situasi pertama, seorang anak diminta untuk menghafal sepuluh kosakata baru sebelum makan malam.
Pada situasi kedua, orang tua mengajak anak mencari benda-benda berwarna merah di rumah dengan permintaan sederhana,
“Can you find something red?”
Kosakata yang dipelajari mungkin sama.
Tetapi pengalaman yang dirasakan sangat berbeda.
Mereka belajar melalui interaksi, kebiasaan, permainan, cerita, lagu, dan percakapan simple yang terus diulang.
Karena itulah, bahasa lebih mudah melekat ketika menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya bagian dari jadwal belajar.
Bukan berarti orang tua melakukan sesuatu yang salah.
Sebagian besar justru sudah berusaha memberikan yang terbaik.
Namun ada beberapa kebiasaan yang tanpa disadari bisa membuat anak semakin enggan belajar bahasa Inggris.
Misalnya, terlalu cepat membenarkan setiap pengucapan yang keliru sehingga anak takut mencoba.
Atau terlalu fokus mengejar jumlah kosakata tanpa memberi ruang untuk menggunakan kata-kata tersebut dalam percakapan.
Ada juga yang tanpa sadar menjadikan waktu belajar sebagai momen penuh tekanan.
Padahal bagi anak, emosi yang muncul saat belajar akan jauh lebih diingat daripada materi yang dipelajarinya.
Jika setiap sesi belajar berakhir dengan rasa lelah atau kecewa, anak perlahan mulai menilai belajar bahasa Inggris sebagai pengalaman belajar yang tidak menyenangkan.
Orang tua modern sering berpikir bahwa solusi berikutnya adalah mencari platform lain, metode lain, atau les tambahan.
Padahal yang paling dibutuhkan anak kadang jauh lebih sederhana.
Lima belas menit bermain bersama.
Membaca cerita pendek sebelum tidur.
Menyanyikan lagu favorit dalam bahasa Inggris.
Memberi kesempatan anak berbicara tanpa takut salah.
Memuji keberanian mereka mencoba, bukan mencari jawaban yang benar.
Kebiasaan-kebiasan kecil seperti inilah yang perlahan membangun rasa percaya diri.
Dan rasa percaya diri adalah fondasi penting sebelum kemampuan bahasa berkembang.
Anak-anak belajar paling baik ketika mereka merasa sedang bermain, mengeksplorasi, dan berinteraksi.
Karena itu, banyak pendekatan pembelajaran modern mulai menggabungkan cerita, video interaktif, permainan, tantangan harian, hingga aktivitas sederhana yang bisa dilakukan bersama orang tua di rumah.
Tujuannya bukan sekadar membuat anak menghafal lebih banyak kata.
Tetapi membantu mereka menikmati proses belajar itu sendiri.
Ketika pengalaman belajar berubah menjadi sesuatu yang menyenangkan, motivasi biasanya tumbuh dengan lebih alami.
Mungkin pertanyaannya bukan lagi,
“Sudah berapa banyak les yang diikuti anak?”
atau
“Sudah berapa aplikasi yang dipasang di tablet?”
Melainkan,
“Apakah hari ini anak pulang dengan perasaan senang setelah belajar bahasa Inggris?”
Karena anak yang menikmati proses belajar akan lebih mudah bertahan ketika menemui kesulitan.
Sebaliknya, anak yang hanya mengejar kewajiban akan terus mencari alasan untuk menghindarinya.
Bahasa Inggris bukan sekadar mata pelajaran.
Di era digital, kemampuan ini telah menjadi jembatan menuju informasi, pertemanan, dan peluang yang lebih luas.
Dan perjalanan itu tidak selalu dimulai dari kelas tambahan atau aplikasi baru.
Sering kali, perjalanan itu dimulai dari satu perubahan kecil di rumah: mengubah cara anak merasakan pengalaman belajar setiap hari.
***
Previous
Ide Kreatif Belajar Inggris Bersama Anak
Next
10 Tips Kepsek Tingkatkan Mutu Sekolah
10 Jun - 3 min read
10 Jun - 3 min read
10 Jun - 3 min read
10 Jun - 3 min read
Paling banyak dibaca
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read