Belajar Bahasa Inggris

Saat Niat Membantu Justru Membuat Anak Semakin Sulit Belajar Bahasa Inggris

author img

Published on June 29, 2026

By Christian Ponto

Saat Niat Membantu Justru Membuat Anak Semakin Sulit Belajar Bahasa Inggris

Bagikan artikel:

“Mama, aku takut salah ngomong.”

Alya, siswi SD asal Kota Bogor, sedang duduk di meja belajarnya sambil menatap buku daftar kosakata yang harus ia pelajari untuk kelas Bahasa Inggris besok pagi.

Dalam bukunya tertulis:

“My hobby is…”

Sebenarnya ia tahu jawabannya.

Tetapi ia ragu mengucapkannya.

Takut pengucapannya salah.

Atau tata bahasanya keliru.

Ia tidak mau ditertawakan.

Sang ibu, yang sejak tadi menemaninya belajar, ingin membantu.

“Bukan begitu bacanya.”

“Coba ulang lagi.”

Niatnya memang tulus.

Membantu anak agar lebih cepat bisa Bahasa Inggris.

Namun tanpa menyadarinya, ada sesuatu yang perlahan ikut tumbuh di sana:

Bukan kemampuan berbahasa. Melainkan ketakutan untuk mencoba.


Faktanya, semakin banyak orang tua di Indonesia paham pentingnya Bahasa Inggris bagi masa depan anak mereka.

Semua dilakukan karena satu alasan sederhana:

Karena mereka peduli dan ingin anaknya memiliki banyak peluang di kemudian hari.

Namun, justru di situlah ironi kecil yang jarang terungkap.

Kadang-kadang, keinginan untuk membantu anak belajar Bahasa Inggris malah berubah jadi penghambat proses belajar itu sendiri.

Bukan karena orang tua kurang mendukung, melainkan terlalu ingin membantu.


Misalnya ketika orang tua sering mengkoreksi saat anak berbicara.

“Pronunciation-nya salah.”

“Bukan begitu cara bacanya.”

“Tenses-nya keliru.”

Di satu sisi, itu terasa seperti bantuan.

Tapi, anak bisa kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting:

Keberanian untuk mencoba.

Padahal bahasa tidak dipelajari dengan cara yang sama seperti rumus matematika.

Bahasa dipelajari melalui percobaan.

Melalui kalimat yang belum sempurna.

Dari pengucapan yang masih terdengar kaku.

Lewat kesalahan-kesalahan kecil yang perlahan diperbaiki seiring waktu.

Ketika setiap kesalahan langsung dihentikan sebelum anak selesai berbicara, anak belajar satu hal:

Kesalahan adalah sesuatu yang wajib dihindari.

Padahal dalam belajar bahasa, salah justru merupakan bagian dari prosesnya.


Ada juga kebiasaan lain yang sangat umum terjadi.

Fokus yang terlalu besar pada nilai.

“Nilai Bahasa Inggrisnya berapa?”

“Kenapa turun?”

“Temanmu kok bisa lebih tinggi?”

Pertanyaan-pertanyaan ini memang wujud perhatian orang tua.

Namun, lambat-laun, anak mulai menerimanya sebagai pesan berbeda:

Bahwa Bahasa Inggris bukan tentang komunikasi.

Bahasa Inggris adalah tentang angka.

Bentuk ujian, dan tidak boleh salah.

Ironisnya, tidak sedikit anak Indonesia yang memperoleh nilai Bahasa Inggris tinggi di sekolah tapi tetap takut berbicara menggunakan Bahasa Inggris.

Bukan karena mereka tidak mampu.

Melainkan karena terlalu lama belajar bahwa tujuan Bahasa Inggris adalah menjadi benar.

Bukan berkomunikasi.

"Ukuran keberhasilan belajar bukanlah seberapa cepat anak mendapatkan jawaban yang benar, melainkan seberapa lama mereka tetap mencintai proses belajar itu sendiri.


Ada pula kebiasaan membandingkan.

Kadang dengan saudara atau teman sekelas.

Bahkan dengan kemampuan bahasa orang tuanya sendiri.

“Lihat temanmu, sudah lancar.”

“Kakak dulu umur segini sudah bisa.”

“Sepupumu sudah berani ngomong Bahasa Inggris.”

Kalimat-kalimat seperti ini sering dimaksudkan sebagai motivasi.

Namun bagi anak, perbandingan jarang terdengar seperti dorongan.

Yang mereka dengar justru:

“Aku belum cukup baik.”


Di era modern seperti sekarang, ada satu ironi lain yang makin sering muncul.

Anak memiliki jadwal yang semakin padat.

Hampir tidak ada ruang kosong.

Padahal dalam belajar bahasa, ruang kosong seyogianya adalah tempat terbaik untuk bertumbuh.

Mendengarkan lagu berbahasa Inggris karena penasaran dengan liriknya.

Menonton film animasi favorit tanpa merasa sedang belajar.

Mencoba mengucapkan kata baru tanpa takut salah.

Bermain sambil bereksperimen dengan bahasa.

Karena pada akhirnya, bahasa bukan hanya pelajaran sekolah.

Bahasa adalah pengalaman.


Mungkin inilah perubahan terbesar dalam pembelajaran Bahasa Inggris hari ini.

Dulu, tantangan terbesar adalah akses terhadap materi belajar.

Hari ini, anak dapat menemukan arti hampir semua kata hanya dalam hitungan detik.

Aplikasi penerjemah tersedia di genggaman tangan.

Kecerdasan buatan dapat membantu menjelaskan grammar.

Platform pembelajaran digital semakin mudah diakses.

Namun di era teknologi seperti sekarang, kemampuan yang justru semakin berharga bukanlah kemampuan menghafal sebanyak mungkin kosakata.

Melainkan keberanian untuk menggunakan bahasa itu sendiri.

Untuk berbicara.. Untuk mencoba. Untuk salah. Dan untuk belajar lagi.

Sayangnya, kemampuan-kemampuan itulah yang kadang tanpa sadar justru sering kita ambil dari anak-anak.


Sisi positifnya, anak sebenarnya tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.

Mereka tidak perlu pendamping belajar yang selalu memiliki jawaban.

Anak butuh sosok dewasa yang bersedia memberi ruang.

Ruang untuk mencoba.

Ruang untuk salah.

Ruang untuk bingung.

Ruang untuk menemukan kepercayaan dirinya sendiri.

Karena pada akhirnya, keberhasilan belajar Bahasa Inggris mungkin bukan tentang seberapa cepat anak menghafal kosakata baru.

Melainkan tentang seberapa lama mereka tetap berani menggunakan bahasa itu meskipun belum sempurna.


Bagi dunia dan teknologi pendidikan sekarang, tantangan terbesarnya bukan lagi bagaimana menyediakan lebih banyak informasi.

Informasi sudah terlalu melimpah.

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana menjaga keberanian dan rasa ingin tahu anak tetap hidup.

Bagaimana teknologi dapat menjadi ruang yang aman untuk bereksperimen melalui bahasa, bukan sekadar tempat mencari jawaban yang benar.

Keyakinan inilah yang menjadi dasar LearningRoom dalam menghadirkan pengalaman belajar Bahasa Inggris yang lebih interaktif, menyenangkan, dan memberi ruang bagi anak untuk belajar sesuai ritme mereka sendiri.

Karena mungkin keberhasilan terbesar dalam belajar bahasa bukanlah ketika anak tidak pernah salah.

Melainkan ketika mereka tidak lagi takut untuk mencoba.

***

Mari Bertualang dan Belajar Bahasa Inggris di

Logo baru LearningRoom 2026

PELAJAR SENANG, PENGAJAR TENANG

INFO KONTAK DAN KERJASAMA KLIK DI SINI

Previous

Ide Kreatif Belajar Inggris Bersama Anak

Next

Alasan Anak Wajib Mulai Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini?

Featured Articles

Paling banyak dibaca