Published on October 29, 2026
Bagikan artikel:
“Sebentar lagi, Ma!” mungkin menjadi salah satu jawaban yang paling sering didengar orang tua ketika meminta anak berhenti bermain gawai. Di sisi lain, melarang penggunaan gadget sepenuhnya juga tidak selalu realistis. Teknologi sudah menjadi bagian dari kehidupan anak, mulai dari mencari informasi dan mengerjakan tugas sekolah hingga menikmati hiburan.
Lalu, bagaimana sebaiknya orang tua mengatur screen time anak? Apakah semua waktu di depan layar perlu dikurangi, atau justru bisa dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar?
Kuncinya bukan hanya pada berapa lama anak menggunakan gawai, tetapi juga pada apa yang dilakukan anak di depan layar, bagaimana orang tua mendampinginya, dan apakah kebutuhan penting lainnya tetap terpenuhi.
Melalui pendekatan digital parenting yang tepat, orang tua dapat membantu anak membangun kebiasaan digital yang lebih sehat tanpa harus selalu melarang penggunaan teknologi.
Gawai tidak selalu berdampak negatif. Anak bisa menggunakannya untuk membaca cerita digital, berlatih bahasa Inggris, mengembangkan kreativitas, atau berkomunikasi dengan keluarga. Namun, menonton video tanpa henti atau bermain gim tanpa batas yang jelas juga dapat menghabiskan waktu yang seharusnya digunakan untuk aktivitas lain.
Karena itu, orang tua perlu memperhatikan kualitas penggunaan layar, bukan hanya durasinya. Coba ajukan beberapa pertanyaan berikut:
Pembatasan bukan berarti anak harus sepenuhnya menjauhi teknologi, melainkan belajar memanfaatkannya secara tepat dan bertanggung jawab.
Dengan demikian, tujuan orang tua bukan sekadar mengurangi screen time anak, tetapi juga membantu anak memahami kapan, mengapa, dan bagaimana teknologi sebaiknya digunakan.
Salah satu cara sederhana untuk memulai digital parenting adalah mengelompokkan aktivitas digital anak menggunakan panduan lampu lalu lintas. Panduan ini dapat membantu orang tua dan anak berdiskusi tentang kebiasaan penggunaan gawai tanpa harus menjadikan setiap aktivitas sebagai sumber konflik.
Kategori hijau mencakup aktivitas yang membantu anak memperoleh pengetahuan atau mengembangkan keterampilan. Contohnya, membaca buku digital, mengerjakan kuis interaktif, berlatih kosakata bahasa Inggris, atau membuat cerita sederhana.
Orang tua dapat memilih konten yang sesuai dengan usia dan kebutuhan belajar anak. Jika memungkinkan, ajak anak menceritakan kembali hal yang dipelajarinya atau mempraktikkan keterampilan baru setelah menggunakan layar.
Platform pembelajaran berbasis browser juga dapat menjadi pilihan untuk mendukung kegiatan belajar digital. Misalnya, anak dapat menggunakan LearningRoom melalui browser untuk mengakses materi pembelajaran bahasa Inggris yang interaktif.
Gawai juga bisa membantu anak membangun hubungan dengan orang lain. Contohnya, melakukan panggilan video dengan kakek-nenek, menonton tayangan bersama orang tua, atau membuat proyek digital bersama anggota keluarga.
Pada kategori ini, yang terpenting adalah interaksi. Orang tua bisa mengajukan pertanyaan, membicarakan isi tayangan, atau menghubungkan hal yang dilihat anak dengan pengalaman sehari-hari.
Menonton video berulang-ulang, menggulir konten tanpa tujuan, atau bermain gim tanpa batas yang jelas termasuk aktivitas yang perlu lebih diperhatikan.
Hiburan tidak harus dilarang sepenuhnya. Namun, pastikan aktivitas tersebut tidak menggeser waktu tidur, bermain aktif, membaca, belajar, dan berinteraksi langsung dengan keluarga.
Panduan ini bukan penilaian medis. Tujuannya adalah membantu keluarga mengenali pola penggunaan gawai dan membangun keseimbangan antara aktivitas digital dan kegiatan di dunia nyata.
Ketika mencari informasi tentang screen time anak, orang tua mungkin menemukan berbagai saran. Ada yang menekankan pembatasan durasi, sementara yang lain lebih menyoroti kualitas konten, pendampingan, dan kebiasaan keluarga.
Dua pendekatan berikut dapat membantu orang tua memahami prinsip dasarnya.
Dalam arahan mengenai pembatasan penggunaan gawai di satuan pendidikan, Kemendikdasmen menekankan bahwa pembatasan bukan berarti pelarangan total. Anak perlu dibimbing agar menggunakan teknologi digital secara bijaksana dan untuk tujuan yang tepat.
Kemendikdasmen juga mendorong penerapan prinsip 3S:
Ketiga prinsip ini dapat diterapkan dalam rutinitas keluarga, bukan hanya di lingkungan sekolah.
Baca selengkapnya melalui siaran resmi Kemendikdasmen tentang pembatasan penggunaan gawai dan budaya digital yang sehat.
American Academy of Pediatrics (AAP) mendorong keluarga menyusun Family Media Plan, yaitu rencana penggunaan media yang mempertimbangkan kebutuhan, rutinitas, dan nilai keluarga.
Pendekatan ini membantu orang tua menetapkan aturan yang realistis, misalnya kapan gawai boleh digunakan, area mana yang bebas layar, jenis konten yang dapat diakses, serta bagaimana seluruh anggota keluarga menjaga keseimbangan penggunaan teknologi.
Pelajari panduannya melalui How to Make a Family Media Plan.
Mengapa aturan setiap keluarga bisa berbeda? Karena usia, kebutuhan belajar, kegiatan sehari-hari, dan kebiasaan anak tidak selalu sama. Orang tua tidak harus memilih antara melarang semua gawai atau membiarkan penggunaannya tanpa batas. Yang lebih penting adalah membuat aturan yang sesuai dengan kebutuhan anak dan menerapkannya secara konsisten.
Orang tua tidak harus langsung mengubah seluruh kebiasaan digital anak. Mulailah dengan menerapkan prinsip 3S dari Kemendikdasmen melalui langkah-langkah sederhana berikut.
Tentukan waktu penggunaan gawai berdasarkan usia, kebutuhan, dan rutinitas anak. Pastikan waktu untuk belajar, bermain, bergerak, beristirahat, dan berinteraksi bersama keluarga tetap terpenuhi.
Tidak ada satu aturan durasi yang otomatis cocok untuk semua anak dan semua situasi. Karena itu, orang tua perlu mempertimbangkan kebutuhan anak dan mengikuti panduan yang relevan dengan usianya.
Sepakati area atau situasi ketika gawai tidak digunakan, misalnya saat makan bersama atau menjelang tidur. Aturan ini membantu anak memahami bahwa ada waktu untuk menggunakan teknologi dan ada waktu untuk berinteraksi tanpa layar.
Berikan pemberitahuan sebelum waktu penggunaan gawai berakhir. Setelah itu, bantu anak beralih ke kegiatan lain, seperti membaca, menggambar, bermain di luar, atau melakukan aktivitas bersama keluarga.
Jangan lupa memberikan contoh. Anak akan lebih mudah memahami aturan jika orang tua juga berusaha tidak terus-menerus menggunakan ponsel ketika sedang menghabiskan waktu bersama mereka.
Sebelum memilih aplikasi atau layanan pembelajaran digital, periksa beberapa hal berikut:
Jika menggunakan platform pembelajaran berbasis browser, orang tua juga dapat memeriksa situs resminya, memastikan alamat situs benar, dan mendampingi anak ketika pertama kali mengakses materi.
Ingat, label edukatif saja tidak menjamin suatu aplikasi atau layanan cocok untuk kebutuhan anak. Pilih berdasarkan kualitas materi, keamanan, dan manfaatnya bagi proses belajar.
Anak yang sering meminta gawai tidak otomatis berarti mengalami kecanduan gadget. Namun, orang tua perlu lebih memperhatikan kebiasaannya apabila penggunaan gawai terus mengganggu tidur, sekolah, aktivitas fisik, atau hubungan keluarga.
Perhatikan juga jika anak berulang kali kesulitan berhenti meskipun sudah dibantu membuat aturan, kehilangan minat terhadap aktivitas lain, atau mengalami konflik yang semakin intens setiap kali penggunaan gawai dibatasi.
Jika pola tersebut menetap atau mulai mengganggu keseharian anak, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog. Hindari memberikan diagnosis sendiri hanya berdasarkan satu perilaku.
Mengatur penggunaan gawai akan lebih mudah ketika anak memahami alasan di balik setiap aturan. Terinspirasi dari pendekatan Family Media Plan yang disarankan AAP, orang tua dapat membuat kesepakatan sederhana bersama anak.
Contohnya:
Tidak perlu membuat banyak aturan sekaligus. Mulailah dari satu atau dua kebiasaan yang paling mudah diterapkan, kemudian bangun konsistensi bersama.
Pada akhirnya, digital parenting bukan tentang menjauhkan anak dari teknologi sepenuhnya, melainkan membantunya belajar menggunakan teknologi dengan bijak. Dengan pendampingan, aturan yang realistis, dan pilihan konten yang tepat, orang tua dapat mengubah penggunaan gawai menjadi kesempatan untuk belajar dan berkembang.
Mulailah dari satu kebiasaan kecil hari ini. Sebab, kebiasaan digital yang sehat tidak terbentuk dalam semalam, tetapi tumbuh melalui contoh dan kesepakatan yang dijalankan bersama.
***
Previous
Game Interaktif, Belajar Inggris Efektif
Next
5 Aktivitas Seru di Rumah Bikin Anak Betah Belajar
10 Jun - 3 min read
10 Jun - 3 min read
10 Jun - 3 min read
10 Jun - 3 min read
Paling banyak dibaca
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read