Published on August 28, 2026
Bagikan artikel:
Ada banyak hal yang harus dipersiapkan seorang guru sebelum pembelajaran dimulai.
Materi apa yang akan diajarkan hari ini? Apa yang sebenarnya perlu dipahami atau mampu dilakukan peserta didik setelah pembelajaran selesai? Aktivitas seperti apa yang cocok untuk kemampuan mereka? Berapa banyak waktu yang dibutuhkan? Bagaimana jika sebagian peserta didik sudah memahami materi, sementara yang lain masih membutuhkan bantuan?
Dan ketika semua pertanyaan itu belum cukup, guru juga masih perlu memikirkan media pembelajaran, sumber belajar, asesmen, hingga rencana alternatif jika kegiatan yang sudah disiapkan ternyata tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Bagi guru yang telah bertahun-tahun mengajar, sebagian proses tersebut mungkin sudah menjadi kebiasaan. Namun bagi guru Bahasa Inggris yang baru melakoni profesi ini, persiapan mengajar bisa terasa seperti menyusun banyak potongan yang belum tentu mudah disatukan.
Tidak jarang, waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mengembangkan ide pembelajaran justru habis untuk mencari contoh, menyesuaikan format, atau mencoba menyusun dokumen dari halaman kosong.
Padahal, sebuah lesson plan Bahasa Inggris seharusnya tidak dibuat sekadar untuk memenuhi kebutuhan administrasi.
Lesson plan seharusnya membantu guru menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting:
Ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang jelas, persiapan mengajar tidak lagi hanya berupa daftar materi atau rangkaian aktivitas.
Guru mulai memiliki sebuah peta.
Peta tersebut membantu menghubungkan tujuan pembelajaran, materi, fokus bahasa, aktivitas, sumber daya, hingga asesmen dalam satu alur yang lebih terarah.
Dalam konteks pendidikan di Indonesia, guru mungkin mengenal berbagai istilah untuk dokumen perencanaan pembelajaran. Ada yang terbiasa menggunakan istilah RPP, sementara istilah modul ajar juga semakin familiar digunakan.
Namun, apapun format yang digunakan, tantangan dasarnya tetap sama: bagaimana merencanakan pembelajaran yang jelas, realistis, dan benar-benar dapat digunakan ketika guru berada di dalam kelas?
Melalui panduan ini, Anda akan mempelajari cara menyusun lesson plan Bahasa Inggris secara bertahap—mulai dari menentukan arah dan tujuan pembelajaran, memilih materi dan fokus bahasa, merancang langkah-langkah pembelajaran, hingga menyiapkan asesmen dan aktivitas tindak lanjut.
Artikel ini juga dilengkapi dengan contoh penerapan untuk berbagai kebutuhan pembelajaran serta template lesson plan Bahasa Inggris yang dapat digunakan sebagai titik awal untuk menyusun rencana pembelajaran Anda sendiri.
Jadi, jika selama ini menyusun lesson plan terasa seperti memulai dari halaman kosong setiap kali akan mengajar, mari mulai dari satu hal yang lebih sederhana:
Bukan dengan bertanya, “Apa yang harus saya tulis?”, tetapi, “Apa yang saya ingin peserta didik mampu lakukan setelah mereka belajar?”
Dari situlah sebuah pembelajaran dapat mulai direncanakan.
Secara sederhana, lesson plan adalah rencana pembelajaran yang membantu guru mempersiapkan arah, proses, dan cara melihat perkembangan belajar peserta didik.
Dalam pembelajaran Bahasa Inggris, lesson plan dapat membantu guru merencanakan:
⇢ apa yang ingin dicapai peserta didik;
⇢ materi atau konsep yang akan dipelajari;
⇢ kosakata, ungkapan, atau unsur bahasa yang menjadi fokus;
⇢ keterampilan berbahasa yang ingin dikembangkan;
⇢ aktivitas guru dan peserta didik;
⇢ sarana dan sumber belajar;
⇢ bentuk asesmen;
⇢ aktivitas atau tindak lanjut setelah pembelajaran.
Dengan kata lain, lesson plan membantu guru menjawab empat pertanyaan dasar:
Lesson plan yang baik tidak harus menjadi dokumen yang panjang. Yang lebih penting adalah adanya hubungan yang jelas antara tujuan, materi, aktivitas, dan asesmen.
Guru di Indonesia mungkin menggunakan istilah yang berbeda ketika membicarakan perencanaan pembelajaran.
Ada yang menggunakan istilah:
Dalam artikel ini, istilah lesson plan Bahasa Inggris digunakan sebagai istilah utama karena pembahasan berfokus pada bagaimana guru merencanakan satu proses pembelajaran secara terstruktur.
Sementara itu, struktur yang dibahas dapat digunakan sebagai referensi dan disesuaikan untuk menyusun modul ajar Bahasa Inggris atau perangkat pembelajaran sesuai kebutuhan sekolah.
Karena itu, fokus utama artikel ini bukan sekadar pada nama dokumennya, melainkan pada pertanyaan yang lebih penting:
Apakah rencana pembelajaran tersebut benar-benar membantu guru merancang proses belajar yang lebih terarah?
Jika jawabannya ya, maka dokumen tersebut telah menjalankan fungsi utamanya.
Mengajar Bahasa Inggris bukan hanya soal menjelaskan arti kata atau meminta peserta didik mengerjakan latihan.
Dalam satu pembelajaran, peserta didik mungkin perlu:
⇢ mendengarkan bahasa;
⇢ memahami kosakata;
⇢ mengenali pola bahasa;
⇢ membaca atau mengamati teks;
⇢ berlatih menulis;
⇢ berbicara;
⇢ menggunakan bahasa dalam konteks tertentu.
Tanpa perencanaan yang cukup jelas, pembelajaran dapat berubah menjadi sekadar kumpulan aktivitas.
Misalnya, peserta didik:
Semua aktivitas tersebut bisa menarik. Namun guru tetap perlu bertanya:
Apa kemampuan yang sebenarnya sedang dikembangkan melalui aktivitas ini?
Di sinilah lesson plan membantu.
Lesson plan akan menjadi peta pembelajaran, agar guru memiliki gambaran tentang apa yang perlu dilakukan sebelum masuk kelas dan lebih siap menghadapi alur pembelajaran yang telah dirancang.
Tidak ada satu format baku yang wajib digunakan oleh semua guru.
Sebuah lesson plan Bahasa Inggris SD sangat mungkin berbeda dengan lesson plan untuk SMP atau SMA. Perbedaan tersebut bisa meliputi:
Namun, terlepas dari perbedaannya, ada sejumlah komponen yang dapat membantu guru menyusun rencana pembelajaran dengan lebih sistematis.
Berikut urutan pengisian template Lesson Plan Bahasa Inggris LearningRoom, yang disusun dengan mengacu pada komponen perencanaan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka.
Bagian pertama memberikan konteks dasar terhadap pembelajaran yang akan dirancang.
Guru dapat mencantumkan informasi seperti:
Bagian ini memang sederhana, tetapi membantu memastikan bahwa seluruh perencanaan berikutnya sesuai dengan konteks pembelajaran.
Bagian ini membantu guru memastikan arah pembelajaran sebelum menentukan aktivitasnya.
Kesalahan yang cukup umum adalah langsung mencari permainan, worksheet, atau video materi sebelum benar-benar mengetahui kemampuan apa yang ingin dikembangkan.
Padahal, perencanaan yang lebih terarah dapat dimulai dari pertanyaan:
Kemampuan apa yang ingin dikembangkan?
Kemudian:
Apa yang diharapkan mampu dilakukan peserta didik setelah pembelajaran ini?
Contoh:
Peserta didik mampu menggunakan Bahasa Inggris sederhana untuk berinteraksi dan menyampaikan informasi diri dalam situasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Contoh:
Setelah mengikuti pembelajaran, peserta didik mampu:
Tujuan inilah yang kemudian menjadi dasar dalam menentukan materi, aktivitas, dan bentuk asesmen.
Sebuah pembelajaran yang baik tidak hanya dirancang berdasarkan kondisi ideal.
Guru juga perlu mempertimbangkan apa yang tersedia dan apa yang benar-benar dapat digunakan.
Dalam template LearningRoom, bagian ini dapat dibagi menjadi empat komponen.
Contohnya:
⇢ laptop;
⇢ proyektor;
⇢ papan tulis;
⇢ flashcards;
⇢ worksheet;
⇢ speaker;
⇢ gambar;
⇢ video pembelajaran.
Contohnya:
⇢ ruang kelas;
⇢ koneksi internet;
⇢ perangkat digital;
⇢ ruang untuk aktivitas kelompok;
⇢ speaker bersama.
Contoh:
Jika proyektor atau koneksi internet tidak dapat digunakan, guru menggunakan flashcards dan contoh dialog yang telah dicetak.
Perencanaan alternatif seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat membuat lesson plan jauh lebih realistis untuk digunakan.
Setelah mengetahui tujuan pembelajaran, guru perlu menentukan apa yang benar-benar akan dipelajari peserta didik. Bagian ini membantu lesson plan menjadi lebih spesifik.
Gunakan pertanyaan:
Apa materi, konsep, atau topik utama yang akan dipelajari peserta didik?
Contoh:
Greeting & Introducing Yourself, termasuk penggunaan ungkapan salam, memperkenalkan nama, dan memberikan informasi diri sederhana.
Guru dapat menggunakan:
⇢ dialog;
⇢ narrative text;
⇢ descriptive text;
⇢ procedure text;
⇢ recount text;
⇢ audio;
⇢ video;
⇢ gambar;
⇢ teks informatif.
Selain bentuk input, guru juga dapat menjelaskan konteks penggunaan bahasa.
Contoh:
Percakapan sederhana antara dua orang yang baru bertemu.
Konteks akan membantu peserta didik memahami bahwa bahasa tidak digunakan secara terpisah dari situasi.
Di bagian ini, guru menentukan unsur bahasa yang benar-benar menjadi fokus. Guru tidak perlu mengisi seluruh komponen. Pilih hanya yang relevan dengan tujuan pembelajaran.
⇢ Kosakata;
Contoh: Hello, hi, good morning, name, age, friend, dan nice to meet you.
⇢ Fungsi Bahasa atau Ungkapan
Contoh: Menyapa, menanyakan kabar, memperkenalkan diri, dan merespons perkenalan.
⇢ Tata Bahasa dan Fitur Kebahasaan
Contoh: I am..., My name is..., What is your name?, serta penggunaan personal pronoun seperti I dan my.
⇢ Pelafalan atau Phonics
Contoh: Pelafalan ungkapan hello dan hi, serta penggunaan intonasi dalam pertanyaan sederhana.
⇢ Ejaan dan Tanda Baca
Contoh: Penggunaan huruf kapital pada nama dan awal kalimat serta tanda tanya pada pertanyaan sederhana.
Misalnya:
Guru juga dapat menentukan strategi yang digunakan peserta didik.
Contoh pada Narrative Text:
Menemukan gagasan utama, mengidentifikasi informasi penting, membuat inferensi, dan merangkum cerita.
Contoh pada pembelajaran Speaking:
Menggunakan sentence starters, berlatih bersama pasangan, dan melakukan role-play.
Dengan demikian, guru tidak hanya menentukan apa yang dipelajari, tetapi juga bagaimana peserta didik akan belajar dan menggunakan kemampuan tersebut.
Bagian ini menjelaskan bagaimana rencana pembelajaran diterjemahkan menjadi kegiatan di kelas.
Untuk memudahkan pengisian, langkah-langkah pembelajaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar:
Setiap tahap dapat berisi informasi tentang:
⇢ tahap kegiatan;
⇢ durasi;
⇢ aktivitas guru;
⇢ aktivitas peserta didik.
⇢ Aktivitas Guru
Guru menyapa peserta didik menggunakan beberapa ungkapan sederhana seperti Hello, Hi, dan Good Morning.
⇢ Aktivitas Peserta Didik
Peserta didik merespons salam dan menirukan pelafalan ungkapan yang digunakan.
⇢ Aktivitas Guru
Guru menunjukkan gambar dua orang yang sedang bertemu dan mengajukan pertanyaan sederhana untuk menggali pengalaman peserta didik.
⇢ Aktivitas Peserta Didik
Peserta didik mengamati gambar dan menjawab berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang telah dimiliki.
⇢ Aktivitas Guru
Memperkenalkan kosakata dan ungkapan greeting serta memodelkan pelafalan dan dialog sederhana.
⇢ Aktivitas Peserta Didik
Mendengarkan, mengamati, dan mengulang ungkapan yang diperkenalkan.
⇢ Aktivitas Guru
Memberikan contoh dialog dan sentence starters untuk membantu peserta didik berlatih.
⇢ Aktivitas Peserta Didik
Melengkapi dialog dan mempraktekkannya secara berpasangan.
⇢ Aktivitas Guru
Mengamati aktivitas peserta didik dan memberikan bantuan seperlunya.
⇢ Aktivitas Peserta Didik
Melakukan role-play untuk menyapa dan memperkenalkan diri kepada teman.
Contoh:
Peserta didik diminta memperkenalkan diri dalam dua atau tiga kalimat.
What did you learn today?
atau:
What was easy or difficult for you?
Tidak semua tahap harus digunakan secara kaku. Guru dapat menyesuaikannya dengan durasi, materi, dan kebutuhan peserta didik.
Penilaian dalam pembelajaran Bahasa Inggris tidak selalu harus berupa tes tertulis.
Cara menilai siswa SD dapat berbeda dengan cara menilai siswa SMP atau SMA. Bentuk penilaian juga perlu disesuaikan dengan kemampuan yang ingin diamati.
Misalnya, kemampuan speaking lebih relevan diamati melalui percakapan atau performa. Sementara kemampuan reading mungkin membutuhkan aktivitas membaca dan memahami teks.
Karena itu, guru dapat merencanakan tiga fungsi utama asesmen.
Bentuk Asesmen:
Tanya jawab singkat dan brainstorming.
Apa yang Diamati atau Diketahui?
Kemampuan awal peserta didik dalam mengenali dan menggunakan ungkapan greeting dan self-introduction.
Bentuk Asesmen:
Observasi selama latihan dialog.
Apa yang Diamati atau Dinilai?
Kemampuan menggunakan ungkapan, memperkenalkan diri, serta kejelasan pelafalan.
Bentuk Asesmen:
Praktek percakapan sederhana secara berpasangan.
Apa yang Dinilai?
Kemampuan peserta didik menggunakan ungkapan greeting dan memperkenalkan diri secara mandiri dalam percakapan sederhana.
Rubrik dapat berbeda berdasarkan:
⇢ jenjang peserta didik;
⇢ tujuan pembelajaran;
⇢ keterampilan yang dinilai;
⇢ jenis tugas;
⇢ tingkat kompleksitas materi.
Untuk pembelajaran speaking tingkat dasar, misalnya, kriteria dapat mencakup:
⇢ penggunaan ungkapan;
⇢ kejelasan pelafalan;
⇢ kemampuan berkomunikasi.
Pada tingkat yang lebih tinggi, aspek penilaian dapat berkembang menjadi:
⇢ content;
⇢ organization;
⇢ vocabulary;
⇢ grammar;
⇢ pronunciation;
⇢ fluency.
Karena itu, lesson plan tidak harus memuat semua detail rubrik. Guru dapat mencantumkan bentuk asesmen dan aspek yang akan diamati, kemudian menggunakan instrumen atau rubrik yang sesuai.
Pembelajaran tidak selalu berhenti ketika peserta didik meninggalkan kelas.
Guru dapat merancang aktivitas tambahan untuk membantu mereka memperkuat, menerapkan, atau melanjutkan proses belajar.
Aktivitas | Deskripsi / Instruksi | Sumber Daya |
Find Your Partner | Peserta didik mencari pasangan berdasarkan kartu informasi, kemudian saling menyapa dan memperkenalkan diri. | Conversation cards |
Introduce Your Friend | Peserta didik mewawancarai teman lalu memperkenalkannya kepada kelompok. | Worksheet dan alat tulis |
Mini Role-play | Peserta didik melakukan percakapan dalam situasi bertemu seseorang untuk pertama kali. | Role-play prompt cards |
Dengan format seperti ini, guru dapat langsung melihat hubungan antara aktivitas dan sumber daya yang diperlukan.
Guru dapat menentukan statusnya sebagai: ☐ Wajib atau ☐ Opsional
Contoh Aktivitas Wajib:
My Self-Introduction Card
Peserta didik membuat kartu perkenalan sederhana yang berisi nama, usia, dan informasi singkat tentang diri menggunakan kalimat yang telah dipelajari.
Contoh Aktivitas Opsional:
Practice at Home
Peserta didik berlatih memperkenalkan diri dalam Bahasa Inggris kepada anggota keluarga.
Pendekatan ini memberikan ruang bagi guru untuk merancang kegiatan lanjutan yang lebih fleksibel daripada sekadar memberikan PR.
Setelah pembelajaran selesai, lesson plan tidak harus langsung ditutup. Bagian Teacher Reflection dapat membantu guru mencatat apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang perlu dipertimbangkan pada pembelajaran berikutnya.
Guru dapat menggunakan pertanyaan seperti:
⇢ Bagian mana dari pembelajaran yang berjalan dengan baik?
⇢ Aktivitas apa yang paling membantu peserta didik?
⇢ Bagian mana yang membutuhkan waktu lebih lama dari rencana?
⇢ Kesulitan apa yang dialami peserta didik?
⇢ Apa yang perlu disesuaikan pada pembelajaran berikutnya?
Refleksi tidak harus panjang.
Bahkan beberapa catatan sederhana setelah mengajar dapat membantu guru membangun perencanaan pembelajaran yang lebih baik dari waktu ke waktu.
Struktur lesson plan dapat digunakan pada berbagai jenjang. Yang perlu disesuaikan adalah kompleksitas materi, aktivitas, dan kemampuan yang ingin dicapai.
Pembelajaran dapat lebih banyak menggunakan:
⇢ gambar;
⇢ lagu;
⇢ permainan;
⇢ dialog pendek;
⇢ aktivitas berpasangan;
⇢ visual dan contoh konkret.
Contoh Topik: Greeting & Introducing Yourself
Fokus: Menggunakan ungkapan sederhana untuk menyapa dan memperkenalkan diri.
Peserta didik dapat mulai menghadapi:
⇢ teks yang lebih terstruktur;
⇢ aktivitas kolaboratif;
⇢ diskusi sederhana;
⇢ pengembangan berbagai keterampilan berbahasa.
Contoh Topik: Describing People
Fokus: Mendeskripsikan seseorang menggunakan kosakata dan struktur bahasa yang sesuai.
Pada jenjang ini, peserta didik dapat menghadapi aktivitas dengan tingkat analisis dan kemandirian yang lebih tinggi. Misalnya:
⇢ analisis teks;
⇢ diskusi;
⇢ presentasi;
⇢ writing task;
⇢ proyek;
⇢ penyampaian dan pengembangan argumentasi.
Contoh Topik: Expressing Opinions and Arguments
Fokus: Menyampaikan dan mendukung pendapat menggunakan alasan dan bahasa yang sesuai.
Struktur lesson plan tetap dapat digunakan. Yang berubah adalah kedalaman materi, bentuk aktivitas, dan kompleksitas kemampuan yang diharapkan.
Berikut beberapa prinsip yang dapat membantu.
Jangan langsung mencari aktivitas.
Tanyakan terlebih dahulu:
Setelah pembelajaran selesai, apa yang dapat dilakukan peserta didik?
Jawaban ini akan membantu menentukan materi, aktivitas, dan asesmen.
Guru mungkin ingin mengajarkan:
⇢ kosakata;
⇢ grammar;
⇢ speaking;
⇢ listening;
⇢ pronunciation;
⇢ writing.
Namun semuanya tidak selalu harus menjadi fokus utama dalam satu pembelajaran.
Tentukan prioritas.
Contohnya:
Fokus utama: Speaking
Fokus bahasa: Greeting dan Self-Introduction
Keterampilan pendukung: Listening
Dengan fokus yang lebih jelas, pembelajaran juga lebih mudah dirancang.
Struktur sederhana di bawah ini dapat digunakan:
Guru memberikan contoh
↓
Peserta didik berlatih dengan bantuan
↓
Peserta didik menggunakan bahasa secara lebih mandiri
Pendekatan seperti ini sangat membantu dalam pembelajaran speaking maupun writing.
Lesson plan yang baik bukan lesson plan dengan aktivitas terbanyak.
Pertimbangkan:
⇢ jumlah peserta didik;
⇢ durasi pembelajaran;
⇢ fasilitas;
⇢ akses internet;
⇢ kemampuan peserta didik.
Satu aktivitas sederhana yang dapat dilaksanakan dengan baik sering kali lebih efektif daripada lima aktivitas yang tidak selesai.
Tanyakan:
Catatan sederhana tentang alternatif dapat membuat lesson plan lebih siap menghadapi kondisi nyata di kelas.
Asesmen formatif dapat membantu guru mengetahui:
Dengan begitu, asesmen tidak hanya digunakan untuk memberikan nilai, tetapi juga membantu guru mengambil keputusan selama proses pembelajaran.
***
Previous
Potensi AI dan Arah Baru Pendidikan di Indonesia
Next
5 Aplikasi Bahasa Inggris Pendukung Kelas
10 Jun - 3 min read
10 Jun - 3 min read
10 Jun - 3 min read
10 Jun - 3 min read
Paling banyak dibaca
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read
01
10 Jun - 3 min read