Belajar Bahasa Inggris

Ketika Indonesia 'Galak' Digitalisasi Sekolah, Sebagian Anak Masih 'Bertaruh Nyawa' Demi Sampai ke Sekolah

author img

Published on June 25, 2026

By Christian Ponto

Ketika Indonesia 'Galak' Digitalisasi Sekolah, Sebagian Anak Masih 'Bertaruh Nyawa' Demi Sampai ke Sekolah

Bagikan artikel:

Suatu pagi, hari Jumat (5/6/2026), beberapa anak usia sekolah tampak berdiri di tepi sungai di pedalaman Gampong Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat.

Air sungai lebih keruh dari biasanya dengan arus cukup deras, setelah hujan turun malam sebelumnya.

Ada anak yang ditemani oleh orang tuanya untuk membawakan tas plastik berisi kaos seragam, agar tidak basah saat menyeberangi sungai.

Mereka melepas sepatu dan sebagian menggulung celana seragam hingga ke lutut.

Perlahan, rapi bergantian, satu demi satu anak mulai turun ke sungai.

Beriringan menyeberangi sungai menuju Gampong Cangai agar bisa melanjutkan perjalanan ke sekolah.

Mereka adalah siswa-siswi SD Negeri Alue Lhok.


Mereka Seberangi Sungai, Demi Masa Depan. (Metro TV - Facebook)

Dari raut wajahnya, perjalanan menentang maut ini bukan hal baru bagi mereka

Ini adalah rutinitas setiap hari.

Sejak jembatan gantung yang menghubungkan Gampong Canggai dan Gampong Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, putus akibat diterjang banjir enam bulan lalu.

Dengan melintas sungai, anak-anak menyingkat waktu tempuh ke sekolah mereka yang berjarak 800 meter.

Atau memutar lewat jalur lain dengan jarak sekitar delapan kilometer.

Rekaman video perjalanan itu kemudian menyebar dan menyita perhatian publik.

Meski sesungguhnya, hal mengejutkan bukanlah bahwa peristiwa itu terjadi.

Mirisnya adalah kisah serupa mungkin terjadi di lebih banyak tempat daripada yang kita bayangkan.

Sebab manakala Indonesia sedang ‘menggalakkan’ program digitalisasi sekolah, sejumlah anak masih harus memastikan satu hal paling mendasar terlebih dahulu:

Apakah mereka bisa sampai ke sekolah dalam keadaan selamat.

Buat kebanyakan orang, perjalanan ke sekolah mungkin berarti diantar naik motor, berjalan kaki untuk beberapa menit, atau malah menunggu jemputan di depan rumah.


Menempuh bahaya setiap hari untuk sampai ke sekolah. (Foto: Kumparan - Suparta/acehkini)

Tapi, anak-anak lainnya khususnya yang berada di daerah pedalaman Indonesia, perjalanan menuju sekolah masih berupa ‘perjuangan’ menantang alam setiap hari.

Sungai yang meluap ketika hujan turun.

Jalan tanah berubah menjadi lumpur.

Jembatan tak kunjung dibangun.

Transportasi tidak pernah tersedia.

Hingga akhirnya terbentur dua pilihan saja: berangkat dengan risiko besar atau tidak bersekolah sama sekali.

Ketika sebuah kisah terasa luar biasa, sering kali itu hanya karena kita baru pertama kali melihatnya.

Bagi mereka yang menjalaninya, itu adalah rutinitas.

Ironisnya, semua pertanyaan tersebut kembali mencuat di kala Indonesia sedang memasuki salah satu fase transformasi pendidikan paling ambisius dalam beberapa dekade terakhir.

Digitalisasi sekolah menjadi agenda nasional.

Sekolah mulai mengenal learning management system.

Guru mulai menggunakan platform digital.

Pemanfaatan teknologi pendidikan semakin luas.

Pembelajaran berbasis data mulai diperkenalkan.

Kecerdasan buatan mulai dibicarakan sebagai bagian dari masa depan pendidikan Indonesia.

Semua itu merupakan langkah yang penting.

Bahkan sangat penting.


Jembatan Gantung Terputus, Semangat Belajar Tak Pernah Padam. (Foto: Kumparan - Suparta/acehkini)

Karena pendidikan masa depan memang tidak mungkin dipisahkan dari teknologi.

Namun kisah anak-anak di Aceh Barat seolah mengingatkan kita pada sebuah kenyataan yang tidak nyaman:

Indonesia saat ini memiliki dua percakapan pendidikan yang berjalan bersamaan.

Yang pertama berbicara tentang masa depan pendidikan.

Yang kedua masih berjuang untuk mencapai ruang kelas hari ini.

Percakapan pertama mendiskusikan bagaimana teknologi dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

Percakapan kedua masih bertanya bagaimana cara anak bisa tiba di sekolah dengan selamat.

Yang satu merupakan permasalahan transformasi.

Satunya lagi masih berkutat pada aksesnya.

Sebagian anak Indonesia hari ini belajar menggunakan layar sentuh.

Anak lainnya masih harus menyentuh dasar sungai agar tidak terbawa arus menuju sekolah.

Dan keduanya hidup di negara yang sama.

Bukan karena Indonesia terlalu cepat melakukan digitalisasi pendidikan.

Mungkin masalahnya adalah kita terlalu sering memaknai digitalisasi hanya sebagai perangkat.

Padahal inti dari digitalisasi pendidikan sebenarnya jauh lebih besar daripada itu.

Digitalisasi seharusnya berbicara tentang pemerataan kesempatan belajar.

Tentang menjangkau mereka yang selama ini sulit dijangkau.

Tentang memastikan bahwa tempat tinggal seorang anak tidak menentukan kualitas pendidikan yang bisa ia terima.

Teknologi pendidikan tidak seharusnya hanya membuat sekolah yang sudah maju menjadi semakin maju.

Teknologi pendidikan seharusnya membantu sekolah yang tertinggal agar dapat mengejar ketertinggalannya.


Foto Ilustrasi

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan transformasi digital bukanlah berapa banyak perangkat yang berhasil didistribusikan.

Tetapi berapa banyak anak yang sebelumnya tertinggal akhirnya dapat memperoleh kesempatan belajar yang sama.

Lalu apa arti digitalisasi bagi anak-anak yang harus menyeberangi sungai untuk bersekolah?

Mungkin jawabannya bukan perangkat paling canggih.

Melainkan teknologi yang paling relevan.

Konten pembelajaran yang dapat diakses secara offline.

Platform yang tetap berjalan di jaringan internet terbatas.

Materi yang dapat dipelajari kapan saja ketika akses tersedia.

Pelatihan guru yang dapat menjangkau daerah terpencil tanpa harus menunggu perjalanan panjang ke kota besar.

Ekosistem pembelajaran yang tidak berhenti hanya karena jarak geografis.

Teknologi yang baik bukanlah teknologi yang terlihat paling modern.

Teknologi yang baik adalah teknologi yang mampu hadir ketika kondisi tidak ideal.

Karena bagi sebagian wilayah Indonesia, tantangan terbesar bukanlah bagaimana menggunakan teknologi terbaru.

Tetapi bagaimana memastikan pendidikan tetap berjalan meskipun infrastruktur belum sepenuhnya tersedia.


Foto Ilustrasi

Di situlah teknologi pendidikan seharusnya bekerja paling keras.

Bukan di tempat yang paling mudah dijangkau.

Tetapi di tempat yang paling membutuhkan.

Besok pagi, anak-anak itu mungkin akan kembali berdiri di tepi sungai yang sama.

Airnya mungkin masih deras.

Arusnya mungkin masih kuat.

Risikonya mungkin masih ada.

Tetapi mereka kemungkinan akan tetap menyeberang.

Karena keinginan mereka untuk belajar ternyata lebih besar daripada rasa takut mereka terhadap sungai itu sendiri.

Mereka telah menunjukkan sesuatu yang luar biasa:

Bahwa semangat belajar anak-anak Indonesia sering kali jauh melampaui keterbatasan yang mereka hadapi.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah mereka memiliki kemauan untuk belajar.

Pertanyaannya adalah apakah kita memiliki keseriusan yang sama untuk memastikan perjuangan itu tidak harus mereka lakukan selamanya.

Karena pendidikan seharusnya menantang pikiran. Bukan mempertaruhkan nyawa.

Bagi para pelaku teknologi pendidikan, tantangan terbesar hari ini mungkin bukan lagi bagaimana menciptakan fitur baru atau teknologi yang lebih canggih.

Tantangan terbesar adalah memastikan bahwa teknologi mampu menjangkau mereka yang selama ini berada di luar pusat perhatian.

Bahwa transformasi digital tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah yang sudah siap, tetapi juga hadir bagi mereka yang paling membutuhkannya.


Foto Ilustrasi

Keyakinan bahwa teknologi harus menjadi jembatan pemerataan kesempatan belajar inilah yang menjadi fondasi berbagai inisiatif pendidikan digital yang terus dikembangkan LearningRoom untuk mendukung pembelajaran bahasa Inggris bagi anak-anak Indonesia di berbagai daerah.

Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan digital bukan sekadar membuat pembelajaran menjadi lebih modern.

Tetapi membuat kesempatan belajar menjadi lebih adil.

***

Mari Bertualang dan Belajar Bahasa Inggris di

Logo baru LearningRoom 2026

PELAJAR SENANG, PENGAJAR TENANG

INFO KONTAK DAN KERJASAMA KLIK DI SINI

Previous

10 Tips Kepsek Tingkatkan Mutu Sekolah

Next

Solusi Teknologi untuk Pendidikan

Featured Articles

Paling banyak dibaca