Published on May 12, 2026
Bagikan artikel:
Banyak orang mengira tantangan terbesar pendidikan digital di Indonesia adalah guru yang belum terbiasa dengan teknologi.
Padahal kenyataannya justru berbeda.
Guru-guru Indonesia ternyata sudah sangat adaptif dengan dunia digital. Mereka memakai platform belajar, membuat kelas online, mengirim tugas lewat aplikasi, bahkan membantu siswa mengatasi masalah teknis saat belajar.
Namun di balik semua itu, ada harga yang diam-diam harus mereka bayar sendiri.
Mulai dari kuota internet pribadi, koneksi yang tidak stabil, hingga beban tambahan di luar tugas utama mengajar.
Sebuah survei terhadap 101 guru SD dan SMP dari berbagai daerah di Indonesia mengungkap realita yang jarang terlihat publik bahwa transformasi digital pendidikan ternyata masih banyak ditopang oleh pengorbanan guru.
Narasi bahwa guru tidak siap menghadapi teknologi perlahan mulai terpatahkan.
Dalam survei tersebut, 91% guru mengaku percaya diri menggunakan tools digital untuk kegiatan belajar mengajar. Bahkan seluruh responden disebut sudah aktif menggunakan teknologi dalam aktivitas mengajar sehari-hari.
Artinya, hambatan terbesar pendidikan digital hari ini bukan lagi soal guru yang “gaptek”.
Mereka sudah beradaptasi.
Mereka sudah mencoba.
Mereka sudah menjalankan kelas digital dengan segala keterbatasan yang ada.
Banyak guru bahkan harus menggunakan beberapa perangkat sekaligus:
Digitalisasi pendidikan ternyata tidak berjalan dalam kondisi ideal.
Ia berjalan karena guru terus mencari cara agar kelas tetap berlangsung.
Di media sosial, kelas digital sering terlihat lancar dan modern.
Namun realita di lapangan tidak selalu seindah itu.
Sebanyak 69% guru mengaku mengalami gangguan internet hanya dalam satu minggu terakhir. Sementara 17% lainnya menghadapi gangguan hampir setiap hari.
Yang lebih menarik, hanya 31% guru yang merasa koneksi internet sekolah mereka benar-benar stabil.
Sisanya?
Harus beradaptasi dengan koneksi yang naik turun.
Ketika jaringan tiba-tiba lambat saat kelas berlangsung, guru biasanya tidak punya banyak pilihan selain:
Di balik istilah “kelas digital”, banyak guru sebenarnya sedang bertahan di tengah kondisi yang belum sepenuhnya siap.
Inilah bagian yang paling jarang dibicarakan.
Survei menunjukkan 1 dari 4 guru masih membayar kebutuhan internet mengajar menggunakan uang pribadi.
Bukan hanya itu:
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi banyak guru, terutama honorer dan non-permanen, pengeluaran tambahan tersebut menjadi beban rutin yang terus muncul setiap bulan.
Padahal, sekitar 70% responden dalam survei berasal dari kelompok guru non-permanen, termasuk honorer dan PPPK.
Di balik kelas online dan platform belajar yang terlihat modern, ternyata ada guru yang diam-diam terus mengeluarkan uang pribadi agar proses belajar tetap berjalan.
Transformasi digital ternyata juga mengubah peran guru secara perlahan.
Hari ini, banyak guru bukan hanya mengajar materi pelajaran.
Mereka juga menjadi:
Sebanyak 88% guru mengaku membantu siswa menyelesaikan masalah teknis dasar selama proses pembelajaran digital.
Mulai dari:
Ketika sistem tidak berjalan lancar, guru menjadi orang pertama yang harus mencari solusi.
Dan sering kali, semua itu dilakukan sambil tetap mengajar di waktu yang sama.
Satu hal yang paling menarik dari survei ini adalah:
guru Indonesia sebenarnya tidak anti terhadap perubahan.
Mereka justru ingin berkembang.
Sebanyak 92% guru mengaku masih membutuhkan pelatihan tambahan untuk meningkatkan kemampuan digital mereka.
Ini menunjukkan bahwa guru bukan menolak teknologi.
Mereka hanya tidak ingin berjalan sendirian.
Karena transformasi digital pendidikan tidak cukup hanya menghadirkan aplikasi atau platform.
Ia juga membutuhkan:
Guru Indonesia sudah melangkah ke era digital.
Tetapi hingga hari ini, banyak dari mereka masih harus menanggung sebagian bebannya sendiri.
***
Previous
GEMILANG#1: Manfaat & Tantangan Digitalisasi
Next
Alasan Anak Wajib Mulai Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini?
02 May - 3 min read
10 Jun - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
02 Aug - 3 min read
02 Aug - 3 min read
02 Aug - 3 min read
Paling banyak dibaca
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read