Belajar Bahasa Inggris

Generasi YouTube dan AI: Mengapa Banyak Anak Masih Kesulitan Berbahasa Inggris?

author img

Published on June 23, 2026

By Christian Ponto

Generasi YouTube dan AI: Mengapa Banyak Anak Masih Kesulitan Berbahasa Inggris?

Bagikan artikel:

Setiap hari mereka mendengar bahasa Inggris dari YouTube, game online, hingga AI. Namun di ruang kelas, banyak anak masih ragu mengucapkan satu kalimat sederhana. Mengapa hal ini terjadi?

Ambil contoh Raka, seorang bocah SMP berusia 11 tahun asal Kabupaten Barito Kuala. Suatu hari, sepulang sekolah, dirinya tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu langsung mengambil tablet milik ibunya yang tergeletak di meja.

Sambil menikmati camilan sore, Raka membuka YouTube dan mencari video Minecraft dari kreator favoritnya. Tak lama kemudian, ia berpindah ke Roblox. Setelah itu, ia bertanya kepada chatbot AI bagaimana cara membuat karakter game yang lebih menarik.

Dalam waktu kurang dari satu jam tersebut, Raka sudah menambah perbendaharaan kosakata bahasa Inggris.

| Subscribe – Challenge – Upgrade – Mission – Level - Achievement.

Ia mengenal semua istilah itu.

Tapi mengapa, beberapa hari sebelumnya, ketika guru bahasa Inggris meminta setiap siswa memperkenalkan diri di depan kelas, Raka hanya menunduk dan terdiam.

Ia tahu apa yang ingin dikatakan.

Tetapi ia tidak yakin bagaimana harus mengucapkannya.

Fenomena seperti ini semakin sering ditemukan di ruang-ruang kelas Indonesia.

Anak-anak sekarang hidup dalam dunia yang jauh berbeda dibandingkan generasi orang tua mereka. Bahasa Inggris tidak lagi hanya hadir di buku pelajaran atau ruang kelas. Bahasa Inggris kini muncul hampir di setiap sudut kehidupan digital mereka.

Mulai dari video YouTube, media sosial, game online, film streaming, hingga chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI).

Ironisnya, semakin dekat anak-anak dengan bahasa Inggris, semakin sering muncul pertanyaan baru dari guru dan orang tua:

Jika anak sudah begitu sering terpapar bahasa Inggris, mengapa kemampuan mereka belum berkembang seperti yang diharapkan?

Pertanyaan ini mungkin menjadi salah satu paradoks pendidikan paling menarik di era digital saat ini.

Generasi Pertama yang Tumbuh Bersama Bahasa Inggris Digital

Bagi banyak orang tua, belajar bahasa Inggris pada masa sekolah berarti menghafal kosakata dari buku teks, mendengarkan guru menjelaskan tata bahasa di kelas, atau mengerjakan latihan tertulis di buku kerja.

Paparan terhadap bahasa Inggris sangat terbatas.

Sebaliknya, anak-anak yang lahir pada dekade terakhir tumbuh dalam lingkungan yang sama sekali berbeda.

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai kisaran 235 juta jiwa atau 81,72 persen populasi nasional.

Sementara itu, data resmi BPS terbaru (Susenas 2026) menunjukkan lebih dari 77 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada tahun 2026.

Artinya, sebagian besar anak Indonesia kini hidup dalam ekosistem digital yang nyaris tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Bahasa Inggris hadir di sana.

Setiap hari.

Tanpa disadari.

Ketika anak menonton video Minecraft.

Ketika mereka mengikuti tren TikTok.

Ketika mereka bermain game daring bersama teman dari berbagai negara.

Bahkan ketika mereka bertanya kepada AI.

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang harus "mencari" bahasa Inggris, generasi sekarang justru "dikelilingi" oleh bahasa Inggris.

Namun apakah kedekatan tersebut otomatis menghasilkan kemampuan?

Ternyata tidak sesederhana itu.

Insight Box

Apakah Anak Hanya Terpapar atau Benar-Benar Belajar?

Coba perhatikan aktivitas anak saat berinteraksi dengan konten berbahasa Inggris.
Anak kemungkinan sedang benar-benar belajar jika:
✓ Berani mencoba mengucapkan kata atau kalimat baru
✓ Dapat menjelaskan kembali apa yang ditonton atau dibaca
✓ Mampu menggunakan kosakata dalam situasi berbeda
✓ Bertanya ketika menemukan kata yang tidak dipahami
✓ Menunjukkan rasa ingin tahu terhadap makna suatu istilah
Anak mungkin baru sebatas terpapar jika:
✓ Hanya menonton tanpa memahami konteks
✓ Menghafal istilah tetapi tidak menggunakannya
✓ Selalu bergantung pada terjemahan otomatis
✓ Tidak pernah mencoba berbicara atau menulis
✓ Cepat lupa setelah melihat atau mendengar suatu kata
Paparan adalah langkah awal yang penting.
Namun kemampuan tumbuh ketika anak mulai aktif menggunakan bahasa tersebut.

Ketika AI Mulai Mengajar Bahasa Inggris

Satu dekade lalu, orang mungkin akan bertanya apakah internet bisa membantu anak mereka belajar bahasa Inggris. Tapi, hari ini pertanyaannya akan berubah drastis.

|  Bagaimana caranya AI dapat mengajarkan bahasa Inggris ke anak saya?

Semakin banyak anak Indonesia yang mulai menggunakan chatbot AI untuk berbagai kebutuhan.

Mulai dari menerjemahkan kalimat, mencari arti kata, membuat contoh percakapan, hingga berlatih pengucapan.

Teknologi yang sebelumnya hanya digunakan oleh profesional kini mulai masuk ke ruang belajar anak-anak.

Bagi sebagian orang tua, perkembangan ini terlhat fantastis.

Namun dari kacamata para pendidik, terbersit pertanyaan yang lebih mendasar.

Jika AI dapat menjawab hampir semua pertanyaan dalam hitungan detik, keterampilan apa yang masih harus dipelajari anak?

Jawabannya mungkin tidak lagi sekadar kosakata atau tata bahasa.

Yang semakin penting justru kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan memahami konteks.

AI dapat membantu menjelaskan arti sebuah kata.

| Namun AI tidak dapat menggantikan pengalaman seorang anak ketika harus berbicara di depan kelas.

AI dapat membuat contoh percakapan.

| Namun AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan keberanian yang dibutuhkan anak saat berinteraksi dengan manusia lain.

Di era AI, bahasa Inggris bukan lagi sekadar mata pelajaran.

Bahasa Inggris menjadi alat untuk mengakses pengetahuan global, berkolaborasi lintas budaya, dan berpartisipasi dalam dunia yang semakin terhubung.

Karena itu, kemampuan yang dibutuhkan anak juga berubah.

Bukan hanya memahami bahasa.

Tetapi mampu menggunakan bahasa untuk berpikir, bertanya, dan menyampaikan ide.

Tantangan yang Lebih Besar dari Sekadar Nilai Rapor

Ketika membahas kemampuan bahasa Inggris, banyak orang masih terpaku pada nilai ujian atau hasil rapor.

Padahal tantangan yang sesungguhnya jauh lebih besar.

Menurut EF English Proficiency Index 2025, Indonesia masih berada dalam kategori "Low Proficiency" atau tingkat kemahiran bahasa Inggris yang rendah dibandingkan banyak negara lain, bahkan dari sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

Data tersebut tentu tidak dapat menggambarkan kemampuan setiap individu.

Namun angka tersebut memberikan sinyal bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus dilakukan bersama.

Terutama ketika dunia kerja, pendidikan tinggi, dan perkembangan teknologi semakin menuntut kemampuan komunikasi global.

Hari ini, seorang siswa SD mungkin belum memikirkan dunia kerja.

Namun dunia yang akan mereka hadapi 10 atau 15 tahun mendatang kemungkinan sangat berbeda dengan dunia yang kita kenal saat ini.

Banyak profesi masa depan akan membutuhkan kemampuan berkolaborasi dengan orang dari berbagai negara.

Banyak sumber pengetahuan terbaik tersedia dalam bahasa Inggris.

Bahkan teknologi AI yang mereka gunakan sehari-hari sebagian besar dibangun menggunakan sumber daya berbahasa Inggris.

Dengan kata lain, kemampuan bahasa Inggris bukan lagi sekadar pelengkap.

Bahasa Inggris semakin menjadi fondasi literasi global.

Dari Barito Kuala hingga Daerah Lain: Ketika Akses Mulai Merata

Selama bertahun-tahun, salah satu tantangan terbesar pendidikan Indonesia adalah kesenjangan akses.

Anak-anak di kota besar memiliki kesempatan lebih luas dibandingkan anak-anak di daerah.

Termasuk dalam hal pembelajaran bahasa Inggris.

Perkembangan teknologi-lah yang bisa mengubah peta tersebut.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Kuala, Mas Aryansyah, S.ST., M.Kom., dalam kata sambutannya di gelaran LearningRoom English Competition 2026, yang melihat transformasi ini sebagai peluang yang sangat penting bagi daerah.

"Teknologi telah membuka akses yang sebelumnya sulit dijangkau oleh banyak sekolah. Materi pembelajaran, sumber belajar, dan berbagai bentuk pendampingan kini dapat hadir lebih dekat dengan siswa," ujarnya.

Namun ia juga mengingatkan bahwa teknologi bukanlah solusi otomatis.

"Kami belajar bahwa keberhasilan program digital sangat bergantung pada kesiapan guru, dukungan sekolah, dan keterlibatan orang tua. Ketiganya harus berjalan bersama."

Pandangan tersebut semakin sering muncul dalam berbagai diskusi pendidikan.

Transformasi digital tidak hanya tentang perangkat.

Tidak hanya tentang internet.

Dan tidak semata soal aplikasi.

Transformasi digital pada akhirnya adalah tentang manusia.

Cara bagaimana guru beradaptasi.

Dan pendampingan dari orang tua.

Serta mengenai pemanfaatan kesempatan yang tersedia oleh sang anak.

Insight Box

Apa yang Harus Dilakukan Daerah dalam 5 Tahun ke Depan?

Untuk Pemerintah Daerah
• Memperluas akses terhadap pembelajaran digital berkualitas
• Meningkatkan kompetensi digital guru
• Mendorong budaya belajar berkelanjutan di sekolah
• Mengintegrasikan literasi digital dan bahasa Inggris dalam program pendidikan daerah
Untuk Sekolah
• Menciptakan lingkungan yang aman untuk praktik bahasa Inggris
• Menghubungkan pembelajaran di kelas dengan aktivitas digital siswa
• Menggunakan teknologi sebagai alat pembelajaran, bukan sekadar pelengkap
Untuk Orang Tua
• Mendampingi aktivitas digital anak
• Mengubah screen time menjadi learning time
• Memberikan ruang bagi anak untuk mencoba dan membuat kesalahan
• Mengapresiasi proses belajar, bukan hanya hasil

Yang Hilang Bukan Teknologinya

Selama bertahun-tahun, Indonesia berjuang memperluas akses pendidikan.

Sekarang, akses terhadap teknologi sudah semakin terbuka.

Anak-anak memiliki internet.

Mereka punya perangkat digital.

Mereka mengakses video pembelajaran.

Mereka menggunakan AI.

Dan, sumber belajar yang jauh lebih banyak dibandingkan generasi sebelumnya.

Namun akses hanyalah awal.

Yang sering hilang adalah jembatan penghubung akses dengan kemampuan.

Bahasa Inggris tidak tumbuh hanya karena anak melihat layar.

Bahasa Inggris tumbuh ketika anak mulai mencoba.

Ketika mereka salah mengucapkan kata dan berani memperbaikinya.

Ketika bertanya dan berdiskusi.

Saat mereka merasa aman untuk belajar.

Teknologi adalah kunci untuk membuka pintu peluang.

Tetapi kita yang harus mendampingi anak melangkah melewatinya.

Pertanyaan untuk Masa Depan

Beberapa bulan setelah kejadian yang membuatnya gugup di depan kelas, Raka kembali mendapat kesempatan untuk berbicara dalam bahasa Inggris.

Kali ini, ia masih membuat beberapa kesalahan.

Pengucapannya belum sempurna.

Kalimatnya masih sederhana.

Namun ada satu hal yang berbeda.

Ia tidak lagi menunduk.

Ia tidak lagi diam.

Ia mencoba.

Dan mungkin itulah perubahan yang paling penting.

Karena pada akhirnya, masa depan pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak teknologi yang dimiliki anak.

Bukan pula tentang berapa jam mereka terhubung ke internet setiap hari.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Anak Indonesia mungkin tidak pernah sedekat ini dengan bahasa Inggris.

Tetapi apakah kita sudah membantu mereka mengubah paparan menjadi kemampuan?

Dan jika belum, apa yang akan kita lakukan mulai hari ini?

Ketika akses terhadap bahasa Inggris semakin mudah ditemukan, tantangan berikutnya adalah memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar secara terarah, konsisten, dan menyenangkan.

***

Mari Bertualang dan Belajar Bahasa Inggris di

Logo baru LearningRoom 2026

PELAJAR SENANG, PENGAJAR TENANG

INFO KONTAK DAN KERJASAMA KLIK DI SINI

Previous

Kerja Sama Disdik Banjarmasin & LearningRoom

Next

7 Metode Efektif Belajar Bahasa Inggris untuk Anak

Featured Articles

Paling banyak dibaca