Belajar Bahasa Inggris

Workshop, Sertifikat, dan Anggaran Besar: Mengapa Kompetensi Guru Tetap Mandek?

author img

Published on March 13, 2026

By Christian Ponto

Workshop, Sertifikat, dan Anggaran Besar: Mengapa Kompetensi Guru Tetap Mandek?

Bagikan artikel:

Riset terbaru membuktikan bahwa ruang belajar guru berbasis interaksi informal justru lebih efektif meningkatkan kompetensi digital dibanding pelatihan formal berbiaya besar.

Berapa banyak workshop yang sudah Anda ikuti tahun ini? Berapa sertifikat yang berhasil dikumpulkan? Dan, yang paling penting, berapa yang benar-benar mengubah cara Anda mengajar di kelas?

Di tengah anggaran pelatihan guru yang menelan triliunan rupiah setiap tahun, sebuah riset terbaru justru mengungkap fakta mengejutkan: kompetensi digital guru Indonesia lebih banyak tumbuh dari obrolan santai, diskusi spontan, dan belajar bersama sesama guru—bukan dari seminar formal bertema “transformasi pendidikan”.

Jika demikian, pantaskah publik terus membayar mahal sistem pelatihan yang dampaknya nyaris tak terasa?

Pelatihan Besar-Besaran, Tapi Masalah Lama Tak Pergi

Dalam beberapa tahun terakhir, pelatihan guru menjadi salah satu pos belanja terbesar sektor pendidikan. Pemerintah menggelontorkan dana untuk program Guru Penggerak, Platform Merdeka Mengajar, diklat TIK, workshop Kurikulum Merdeka, hingga pelatihan berbasis Learning Management System (LMS).

Namun, realitas di sekolah-sekolah menyajikan potret yang kontras. Banyak guru masih:

- Kesulitan mengelola kelas digital
- Bingung memanfaatkan aplikasi pembelajaran
- Terjebak pada metode konvensional

Pelatihan memang ramai, tetapi transformasi nyata terasa lambat. Sertifikat menumpuk, namun perubahan pedagogi berjalan tertatih.

Riset Membongkar Ilusi Pelatihan Formal

Sebuah studi fenomenologis oleh Jakaria, E., et al. (2025) dalam International Journal of Research in Education and Science (IJORER) memetakan sumber utama kompetensi digital guru di Indonesia.

Hasilnya mencengangkan.

Alih-alih pelatihan formal, faktor paling signifikan justru berasal dari:

1. Ruang belajar guru berbasis interaksi informal
2. Kolaborasi antar guru (peer-to-peer learning)
3. Dukungan keluarga

Sebaliknya, pelatihan formal berkontribusi jauh lebih kecil terhadap peningkatan kompetensi digital guru. Temuan ini menegaskan satu hal: guru belajar paling efektif ketika berada dalam ekosistem sosial yang cair, setara, dan kontekstual.

Ruang Belajar Guru: Pusat Transformasi yang Terlupakan

Di banyak sekolah, ruangan guru kerap dipersepsikan sebagai tempat rehat. Namun di sanalah, sesungguhnya, berlangsung proses belajar paling hidup.

Obrolan singkat di sela jam mengajar, diskusi ringan saat makan siang, hingga berbagi pengalaman mengelola kelas daring menjadi sarana transfer pengetahuan yang jauh lebih efektif dibanding ceramah formal berjam-jam.

Dalam ruangan tersebut jua, pengetahuan tidak mengalir secara hierarkis, melainkan dialogis. Tidak ada ketakutan bertanya, tidak ada tekanan evaluasi, dan tidak ada jarak struktural.

Dua Guru, Dua Jalan Belajar

Seorang guru di sekolah negeri mengikuti workshop Google Classroom selama tiga hari penuh. Ia mendapat modul tebal, presentasi panjang, dan sertifikat resmi. Namun sepulangnya, ia masih kebingungan mengelola kelas digital dan akhirnya kembali ke metode lama.

Di sisi lain, seorang guru lain belajar langsung dari rekannya di ruangan kumpul guru. Dalam 30 menit praktik langsung, ia memahami cara membuat kelas, mengelola tugas, dan memantau aktivitas murid. Dalam seminggu, pembelajaran daring di kelasnya berjalan aktif.

Perbedaan ini menunjukkan: yang dibutuhkan guru bukan seminar, melainkan pendampingan nyata.

Mengapa Sistem Pelatihan Gagal?

1. Pendekatan Massal dan Seragam

Pelatihan dirancang untuk ribuan guru sekaligus, dengan modul seragam, tanpa mempertimbangkan kesenjangan fasilitas dan konteks daerah.

2. Birokratisasi Pembelajaran

Keberhasilan diukur dari:

- Jumlah peserta
- Jumlah jam
- Jumlah sertifikat

Bukan dari:

- Perubahan praktik mengajar
- Dampak pada murid

3. Ilusi Transformasi Digital

Digitalisasi dipersempit menjadi penguasaan aplikasi, bukan transformasi cara berpikir dan mengajar.

Perspektif Sosial: Mengapa Belajar Informal Lebih Kuat?

Dalam budaya Indonesia yang kolektif dan komunal, belajar melalui relasi sosial jauh lebih alami. Guru merasa:

- Aman bertanya
- Bebas bereksperimen
- Nyaman berbagi kegagalan

Ruangan guru menjadi laboratorium sosial pendidikan, tempat transformasi berlangsung tanpa seremoni, tetapi berdampak nyata.

Rekomendasi Kebijakan: Dari Pelatihan ke Ekosistem Belajar

Sudah saatnya negara mengalihkan paradigma:

Dari: Seminar → Sertifikat → Laporan

Menuju: Komunitas → Mentorship → Pendampingan

Langkah konkret:

- Bangun Community of Practice antar guru
- Fasilitasi mentoring berkelanjutan
- Kembangkan platform kolaborasi guru berbasis praktik

Penutup: Menggeser Pusat Transformasi

Transformasi pendidikan tidak lahir dari podium seminar, melainkan dari ruangan belajar guru—tempat diskusi sederhana melahirkan perubahan besar.

Pertanyaannya:

Beranikah negara memindahkan pusat investasi pelatihan guru dari aula hotel ke ruang belajar guru? 

_____

Referensi & Data:  Jakaria, E., et al. (2025) - "A Phenomenological Study on Indonesian Teachers' Digital Competence in the Age of Education 4.0" dalam IJORER

_____

***

Mari Bertualang dan Belajar Bahasa Inggris di

logo-LR-justpasteit.png

PELAJAR SENANG, PENGAJAR TENANG

INFO KONTAK DAN KERJASAMA KLIK DI SINI

Previous

Pendidikan Berkualitas, Bangsa Cerdas

Next

Kunjungi Sanggar Anak Harapan (SAH), LearningRoom Jadi Teman Belajar yang Nyaman Bagi Anak

Featured Articles