Belajar Bahasa Inggris

5 Penyebab Kegagalan Pembelajaran Bahasa Inggris Digital di Sekolah

author img

Published on January 20, 2026

By Christian Ponto

5 Penyebab Kegagalan Pembelajaran Bahasa Inggris Digital di Sekolah

Bagikan artikel:

Bukan Kurang Teknologi, Tapi Salah Strategi

Kita kerap kali mendengar, “Sekolah kami sudah digital! Ada laptop, proyektor, dan akses internet.” Tapi, bila kita mau terang-terangan: Apakah pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah sudah benar-benar berubah menjadi lebih efektif, menarik, dan relevan dengan perkembangan skill siswa?

Secara jujur: jawabannya adalah belum. Meski sudah menggunakan aplikasi berbasis AI sampai platform e-learning tercanggih sekalipun, hasil pencapaiannya belumlah optimal dan jauh dari harapan. Kenapa ya?

Nah, artikel ini akan membedah lima penyebab utama yang membuat pembelajaran bahasa Inggris digital belum berbuah hasil menggembirakan. Bukan kesalahan teknologinya, tapi lebih condong pada bagaimana strategi pengimplementasiannya di lapangan!

1. Teknologi Didahulukan, Guru Terlupakan

Kesalahan paling sering terjadi adalah sekolah memulai dari platform, bukan dari penggunanya. Sekolah menerima aplikasi, akun, atau perangkat, namun guru tidak mendapat pendampingan yang memadai untuk mengintegrasikannya ke dalam pedagogi.

Hasilnya? Guru bingung harus mulai dari mana, sementara fitur platform canggih itu pun tidak dimanfaatkan secara maksimal. Esensi “pembelajaran digital” yang interaktif, personal, dan kolaboratif justru hilang.

Padahal, dalam pembelajaran Bahasa Inggris, peran guru sangat krusial sebagai fasilitator, motivator, dan penyesuai materi dengan kemampuan siswa.

Tanda-tanda di sekolah: Alat digunakan sebagai pengganti guru, bukan amplifier kemampuan guru. Siswa pasif menonton.

Solusi nyata:

Pemda/Kepala Sekolah: Alihkan sebagian anggaran dari “membeli barang” ke “membangun kapasitas.” Danai pelatihan yang berfokus pada pengajaran bahasa berbasis teknologi. Cari platform yang sudah menyediakan pelatihan dan kurikulum terintegrasi untuk guru, sehingga mereka didampingi, bukan sekadar diberi alat.

Guru: Mulai dari platform yang dirancang untuk memperkuat metode, bukan sekadar menyajikan konten. Gunakan tools yang memudahkan pembuatan kuis interaktif, kolaborasi naskah, atau proyek bahasa yang memanfaatkan fitur sederhana namun pedagogis.

2. Mengabaikan “Digital Divide” dalam Satu Kelas

Banyak program pembelajaran digital Bahasa Inggris yang dirancang dengan asumsi koneksi internet selalu tersedia dan stabil.

Kenyataannya, masih banyak daerah yang kurang terjangkau dengan akses internet mumpuni, bahkan kepemilikan smartphone juga belum benar-benar merata.

Jika sistem pembelajaran sepenuhnya bergantung pada koneksi daring, maka guru dan siswa akan cepat kehilangan motivasi.

Tanda-tanda di sekolah: Hanya segelintir siswa yang merespon tugas digital. Siswa lain diam karena tak bisa akses.

Solusi nyata:

Pemda/Kepala Sekolah: Kembangkan kebijakan “Digital Equity”. Pilih solusi teknologi yang memiliki fitur mode offline atau low-bandwidth, sehingga siswa bisa mengunduh materi saat ada sinyal dan mengerjakan nanti. Ini lebih adil.

Guru: Pilih platform yang memahami konteks dan menawarkan solusi, seperti halnya LearningRoom, yang dirancang dengan mempertimbangkan keterbatasan infrastuktur, memungkinkan siswa mengakses dan mengerjakan tugas secara fleksibel, baik online maupun offline.

3. Konten “One-Size-Fits-All” yang Tidak Relevan

Sejumlah platform pembelajaran digital, terutama yang impor, seringkali dirancang dengan konteks budaya dan topik yang asing bagi siswa dari daerah-daerah di Indonesia.

Akhirnya, konten yang tidak relevan membuat siswa kesulitan relate dan menciptakan jarak psikologis, atau bahkan antarmukanya tidak cocok dengan cara belajar siswa kita selama ini.

Alangkah baiknya platform pembelajaran itu dapat mempertimbangkan konteks Indonesia, seperti LearningRoom, yang dirancang dengan konten sesuai Kurikulum Merdeka dan menggunakan contoh-contoh keseharian siswa. Materinya juga bisa di-customize oleh guru sesuai kebutuhan kelas masing-masing, bukan one-size-fits-all. Ini penting supaya siswa bisa relate dan lebih engaged dalam belajar.

Tanda-tanda di Sekolah: Siswa terlihat tidak tertarik, kurang engagement.

Solusi nyata:

Pemda/Kepala Sekolah: Dorong penggunaan platform yang memungkinkan guru mengunggah dan membagikan konten buatan sendiri sesuai konteks lokal. Digitalisasi cerita rakyat atau proyek “My Village” jadi lebih mudah.

Guru: Gunakan tools yang memberi Anda kebebasan untuk melampirkan materi buatan sendiri (video, audio, dokumen) di samping konten inti yang sudah tersedia. Jadikan budaya lokal sebagai jembatan dengan teknologi yang fleksibel.

4. Pelatihan Guru yang “Sekali Tempuh”, Tanpa Komunitas

Ini yang sering terlupakan. Sekolah memberikan guru platform baru, ekspektasinya langsung bisa pakai. Padahal realitasnya, banyak guru yang masih struggle dengan teknologi dasar, apalagi platform pembelajaran digital yang kompleks.

Pelatihan yang cuma sehari atau dua hari itu tidak cukup, sehingga platform digitalnya hanya jadi pajangan, atau paling banter cuma dipake sebagai tempat upload tugas. Potensi fitur-fitur canggih yang bisa bikin pembelajaran lebih engaging dan personalized tidak akan terpakai maksimal.

Program implementasi yang efektif biasanya dimulai dengan onboarding guru yang struktured. Mulai dari training bertahap untuk basic navigation, kemudian cara assign tasks, sampai ke fitur analytics untuk tracking progress siswa. Tak kalah penting, ada tim support (komunitas) yang bisa dihubungi guru ketika terjadi kendala, bukan cuma training sekali langsung lepas tangan.

Tanda-tanda di Sekolah: Hanya 1-2 guru “juara” yang paham, sementara yang lain enggan mencoba.

Solusi nyata:

Pemda/Kepala Sekolah: Bangun Komunitas Praktisi. Pilih penyedia platform yang tidak hanya jual akun dan media pembelajaran, tapi juga membangun komunitas belajar bagi guru untuk saling berbagi praktik baik dan dukungan teknis berkelanjutan.

Guru: Bergabunglah dengan platform yang memiliki jaringan guru pengguna yang aktif. Dukungan sesama rekan guru seringkali lebih efektif daripada manual book.

5. Kurangnya Monitoring dan Evaluasi (M&E) Berkelanjutan

Poin penting lainnya yang sering pula terabaikan. Sekolah umumkan mengadopsi salah satu platform pembelajaran digital, kemudian bikin acara peluncuran yang meriah dan semangat, namun kemudian tanpa adanya follow-up.

Ini terjadi karena tidak ada agenda rutin untuk mengkaji tiga hal vital:

a. apakah platform benar-benar digunakan dengan optimal oleh guru dan siswa,
b. apakah ada indikasi peningkatan kemampuan bahasa Inggris siswa (progress),
c. apakah ada kendala teknis atau pedagogis yang perlu segera diatasi.

Tanpa M&E, kita berjalan buta. Investasi teknologi menjadi seperti “kotak hitam”, kita tidak tahu apakah memberi hasil atau sia-sia. Tanpa evaluasi berkelanjutan, kita tidak bisa improve sistem yang ada.

Tanda-tanda di Sekolah: Kepala sekolah atau Pemda kesulitan membuat laporan pertanggungjawaban yang menunjukkan dampak nyata dari pembelian lisensi/platform digital tersebut.

Solusi nyata:

Pemda/Kepala Sekolah: Tetapkan agenda tetap seperti triwulanan yang tidak semata mengejar target kuantitatif saja (misal: berapa % login), melainkan review kualitatif dan komprehensif.

Guru: Manfaatkan fitur laporan (reporting) di platform digital untuk memantau perkembangan murid. Identifikasi, “Siswa saya paling sering stuck di materi apa?” lalu gunakan info itu untuk remediasi di kelas tatap muka.

Teknologi Bukan Solusi Ajaib

Platform digital untuk pembelajaran bahasa Inggris punya potensi besar. Tapi teknologi itu sendiri bukan jaminan kesuksesan. Yang menentukan adalah bagaimana kita mempersiapkan ekosistem pembelajaran secara menyeluruh.

Kelima penyebab kegagalan di atas juga bukanlah vonis, tetapi peringatan. Infrastruktur yang baik tidak akan maksimal kalau gurunya tidak siap. Guru yang terlatih akan kesulitan kalau platformnya tidak sesuai kebutuhan. Platform yang bagus akan sia-sia kalau tidak diintegrasikan dengan pembelajaran tatap muka. Dan semua itu tidak akan sustainable kalau tidak ada monitoring dan evaluasi.

Solusinya terletak pada memilih pendekatan yang:

a.    Berfokus pada peningkatan kapasitas guru.
b.    Adaptif terhadap kondisi infrastruktur yang beragam.
c.    Fleksibel untuk konten yang relevan.
d.    Didukung oleh komunitas belajar yang berkelanjutan.
e.    Secara konsisten bertanya, mencermati, dan menyesuaikan

Seperti yang telah diadopsi di beberapa sekolah mitra LearningRoom, kunci keberhasilan adalah ketika teknologi hadir sebagai mitra guru dalam mengatasi tantangan-tantangan di atas, bukan malah menambah masalah baru.

LearningRoom dirancang dengan mempertimbangkan konteks sekolah Indonesia, mulai dari requirement teknis yang realistis, dukungan implementasi untuk guru, konten yang sesuai kurikulum, hingga fitur analytics untuk monitoring.

Dengan pendekatan ini, digitalisasi tidak lagi menjadi proyek sekali waktu, melainkan budaya belajar yang terus berkembang.


Saatnya pemerintah daerah dan institusi pendidikan mengambil langkah konkret dalam transformasi digital pendidikan. LearningRoom siap menjadi mitra strategis Anda dalam mewujudkan generasi Indonesia yang unggul dalam kompetensi bahasa Inggris.

Hubungi kami untuk konsultasi dan demo khusus institusi pemerintah.

Artikel ini ditulis untuk membantu pemimpin pendidikan membuat keputusan yang lebih informed dalam adopsi teknologi pembelajaran.

***

Mari Bertualang dan Belajar Bahasa Inggris di

logo-LR-justpasteit.png

PELAJAR SENANG, PENGAJAR TENANG

INFO KONTAK DAN KERJASAMA KLIK DI SINI

Previous

6 Peran Guru yang Jarang Diketahui, Bikin Belajar Lebih Efektif

Next

Ide Kreatif Belajar Inggris Bersama Anak

Featured Articles