Published on December 22, 2025
Bagikan artikel:
Rencana pemerintah menjadikan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di jenjang sekolah dasar mulai tahun ajaran 2027/2028 menandai langkah strategis dalam memperkuat daya saing sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini.
Namun, di balik kebijakan tersebut, kesiapan sekolah dasar di berbagai daerah masih menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan jumlah dan kompetensi guru bahasa Inggris di tingkat SD, yang berpotensi memengaruhi pemerataan mutu pembelajaran.
Sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, bahwa sebanyak 90.447 Sekolah Dasar di Indonesia masih belum memiliki guru Bahasa Inggris.
"Dari sekitar 150.000 sekolah dasar di Indonesia, baru 49.000 yang ada kandidat guru bahasa Inggris, sedangkan 90.000 lebihnya itu tidak ada," tuturnya saat hadir di acara Ngopi Bareng Media, di Jakarta (24/11/2025).
Sebuah kenyataan yang mencuat manakala Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, sebelumnya lebih dulu menetapkan bahwa Bahasa Inggris akan diajarkan sebagai mata pelajaran (mapel) wajib mulai kelas 3 SD di tahun ajaran 2027/2028.
Tanpa strategi percepatan yang tepat, implementasi mapel wajib Bahasa Inggris berpotensi tidak berjalan optimal. Di sinilah pembelajaran digital dan pelatihan guru berbasis teknologi memainkan peran penting sebagai solusi transisi yang realistis dan terukur.
Penetapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar merupakan bagian dari agenda besar peningkatan kualitas pendidikan nasional.
Kebijakan ini bertujuan membekali siswa dengan keterampilan bahasa asing sejak dini agar lebih siap menghadapi tantangan global di masa depan.
Namun, implementasi kebijakan tersebut tidak dapat dilepaskan dari kondisi riil sekolah-sekolah dasar di berbagai wilayah Indonesia, terutama terkait ketersediaan tenaga pendidik yang kompeten.
Perbedaan kapasitas antar daerah, keterbatasan distribusi guru, serta waktu persiapan yang relatif singkat menjadi tantangan utama. Tanpa strategi pendukung yang tepat, kebijakan mapel wajib berisiko tidak berjalan optimal dan justru memperlebar kesenjangan mutu pendidikan antarwilayah.
Data Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa lebih dari 90 ribu SD di Indonesia belum memiliki guru bahasa Inggris, sementara Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib mulai Tahun Ajaran 2027/2028.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kesiapan sekolah tidak dapat hanya mengandalkan penambahan formasi guru baru dalam waktu singkat. Diperlukan pendekatan alternatif yang memungkinkan sekolah tetap memulai pembelajaran bahasa Inggris secara bertahap, terstandar, dan terpantau, sambil menunggu pemenuhan kebutuhan guru secara jangka panjang.
Pada titik inilah peran pembelajaran digital dan pelatihan guru berbasis platform menjadi semakin relevan untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Apabila kesenjangan guru bahasa Inggris tidak segera diatasi, terdapat risiko terjadinya ketimpangan mutu pembelajaran antar sekolah dan daerah.
Sekolah di wilayah perkotaan dengan akses guru dan sumber belajar yang lebih baik akan lebih siap menjalankan kebijakan mapel wajib, sementara sekolah di daerah tertinggal berpotensi tertinggal jauh.
Ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada capaian akademik siswa, tetapi juga pada tujuan jangka panjang peningkatan kualitas sumber daya manusia secara merata.
Oleh karena itu, diperlukan solusi yang dapat menjangkau banyak sekolah secara simultan, fleksibel, dan dapat disesuaikan dengan konteks lokal masing-masing daerah.
Pembelajaran digital memungkinkan pelatihan guru dilakukan secara masif, efisien, dan terstandar melalui Learning Management System (LMS).
Melalui pendekatan micro-credential, guru kelas SD dapat:
- Mengikuti pelatihan Bahasa Inggris berbasis modul bertahap
- Belajar secara mandiri tanpa meninggalkan tugas mengajar
- Mendapatkan sertifikat pelatihan digital sebagai pengakuan peningkatan kompetensi
Model ini memungkinkan pemerintah daerah mempercepat peningkatan kapasitas guru tanpa harus menunggu penempatan guru spesialis dalam jumlah besar.
Di sekolah yang belum memiliki guru Bahasa Inggris, AI-assisted teaching tools dapat berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran yang efektif.
Dengan dukungan teknologi AI, platform pembelajaran digital dapat:
- Menyediakan materi Bahasa Inggris interaktif (listening, speaking, reading)
- Memberikan umpan balik otomatis terhadap latihan siswa
- Menyesuaikan materi dengan level kemampuan siswa
Pendekatan ini tidak menggantikan peran guru, tetapi memperkuat guru kelas sebagai fasilitator pembelajaran Bahasa Inggris, terutama pada masa transisi menuju mapel wajib 2027.
Model blended learning, yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dan digital, menjadi pendekatan paling realistis dalam kondisi keterbatasan guru.
Manfaat blended learning:
- Menjaga keberlangsungan pembelajaran Bahasa Inggris meski tanpa guru spesialis
- Memberikan ruang adaptasi bagi guru dan siswa
- Memungkinkan sekolah menerapkan kurikulum Bahasa Inggris secara bertahap
Blended learning juga memudahkan sekolah menyesuaikan implementasi dengan kondisi infrastruktur dan kesiapan masing-masing daerah.
Sebagai platform pembelajaran digital Bahasa Inggris untuk jenjang SD hingga SMA, LearningRoom dirancang untuk menjawab tantangan pembelajaran di lapangan, khususnya dalam konteks keterbatasan guru
LearningRoom tidak hanya menyediakan konten pembelajaran untuk siswa, tetapi juga program pelatihan guru berbasis LMS yang berfokus pada peningkatan kompetensi praktis guru kelas dan guru bahasa Inggris.
Dalam kapasitasnya untuk sekolah dan pemerintah daerah, LearningRoom mendukung:
- Pelatihan guru Bahasa Inggris berbasis LMS dengan kurikulum terstruktur
- Konten pembelajaran Bahasa Inggris untuk siswa SD yang interaktif dan sesuai kebutuhan usia
- Dashboard monitoring untuk sekolah dan Dinas Pendidikan
- Implementasi blended learning yang dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah
Melalui skema pelatihan berjenjang dan micro-credential, guru dapat mempelajari metode pengajaran bahasa Inggris yang kontekstual, memanfaatkan AI-assisted teaching tools untuk perencanaan pembelajaran, serta mengakses materi ajar yang selaras dengan kebutuhan kurikulum.
Pengalaman implementasi LearningRoom di sejumlah daerah menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran digital dapat membantu sekolah memulai pembelajaran bahasa Inggris secara bertahap, bahkan di tengah keterbatasan sumber daya guru.
Menjelang penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib, pemangku kepentingan pendidikan dihadapkan pada kebutuhan untuk bertindak secara strategis dan kolaboratif. Bagi Dinas Pendidikan Daerah, pemanfaatan platform pembelajaran digital dapat menjadi langkah awal untuk menjalankan program peningkatan kapasitas guru secara efisien dan terukur. Pemetaan kebutuhan sekolah, pelaksanaan pelatihan berbasis LMS, serta pemantauan progres guru dapat dilakukan secara terpusat dan berkelanjutan.
Kepala Sekolah memiliki peran penting dalam mendorong guru kelas mengikuti pelatihan bahasa Inggris berbasis digital sebagai bagian dari pengembangan profesional. Dengan dukungan platform seperti LearningRoom, sekolah dapat memperkuat kapasitas internal tanpa harus menunggu penempatan guru baru.
Kolaborasi jangka menengah antara pemerintah daerah, sekolah, dan penyedia platform pembelajaran digital menjadi kunci agar transformasi pembelajaran bahasa Inggris dapat berjalan secara sistematis dan berkelanjutan.
Menjelang diberlakukannya Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di sekolah dasar pada Tahun Ajaran 2027/2028, kesiapan sekolah dan guru menjadi faktor kunci keberhasilan kebijakan ini. Keterbatasan jumlah guru bahasa Inggris tidak dapat menjadi penghambat bagi upaya peningkatan mutu pendidikan, selama tersedia pendekatan pembelajaran yang adaptif dan terukur.
Melalui pemanfaatan pembelajaran digital dan program peningkatan kompetensi guru berbasis platform seperti LearningRoom, sekolah dan pemerintah daerah memiliki peluang untuk mempersiapkan transisi pembelajaran bahasa Inggris secara lebih sistematis, inklusif, dan berkelanjutan, demi memastikan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.
Sebagai bagian dari persiapan implementasi Bahasa Inggris wajib di jenjang sekolah dasar, pemerintah daerah dan satuan pendidikan dapat mulai mendiskusikan opsi solusi pembelajaran digital dan pelatihan guru untuk pemerintah daerah guna mendukung peningkatan kompetensi guru bahasa Inggris secara bertahap, terukur, dan selaras dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
***
Previous
Alasan Anak Wajib Mulai Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini?
Next
Ide Kreatif Belajar Inggris Bersama Anak
02 May - 3 min read
10 Jun - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
29 Jul - 3 min read
02 Aug - 3 min read
02 Aug - 3 min read
Paling banyak dibaca
01
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read
01
02 Aug - 3 min read